
Jakarta – Kopi selama ini dikenal memiliki sejumlah senyawa yang dikaitkan dengan manfaat antiinflamasi atau antiperadangan. Namun, hubungan antara kopi, kafein, dan peradangan ternyata tidak selalu sama pada setiap orang. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa efeknya dapat berbeda-beda, tergantung kondisi tubuh dan faktor lainnya.
Bagi banyak orang, kopi menjadi sumber utama asupan kafein sehari-hari. Meski demikian, penelitian menemukan bahwa kopi dan kafein dapat memberikan pengaruh berbeda terhadap proses peradangan dalam tubuh. Pada sebagian orang, efeknya mungkin membantu menekan peradangan, sementara pada kondisi tertentu kafein justru berpotensi meningkatkan respons tersebut.
Mengutip Health, konsumsi kopi sebelumnya dikaitkan dengan sejumlah manfaat kesehatan. Kebiasaan minum kopi dikaitkan dengan risiko lebih rendah terhadap beberapa jenis kanker, diabetes tipe 2, gangguan hati, hingga risiko kematian.
Manfaat tersebut diduga berkaitan dengan kemampuan kopi dalam membantu menurunkan peradangan dan meningkatkan sensitivitas insulin.
Beberapa penelitian juga menemukan hubungan antara konsumsi kopi dalam jumlah lebih tinggi dengan penanda peradangan yang lebih rendah dalam pemeriksaan darah.
Dalam sebuah uji klinis, peserta yang mengonsumsi sedikitnya empat cangkir kopi per hari dilaporkan memiliki penurunan sejumlah penanda peradangan dibandingkan mereka yang tidak minum kopi. Salah satu penanda yang mengalami perubahan adalah protein C-reaktif atau CRP.
Menariknya, hasil tersebut ditemukan baik pada kelompok yang mengonsumsi kopi berkafein maupun kopi tanpa kafein.
Bagaimana pengaruh kafein terhadap peradangan?
Efek kopi terhadap proses peradangan tidak hanya ditentukan oleh kandungan kafeinnya. Jenis kopi serta proses pengolahan dan pemanggangan biji juga dapat memengaruhi kandungan senyawa di dalamnya.
Kopi hijau, misalnya, dibuat dari biji kopi yang belum melalui proses pemanggangan. Jenis ini diketahui memiliki kandungan asam klorogenat yang lebih tinggi. Senyawa tersebut dikenal memiliki sifat yang berkaitan dengan efek antiperadangan.
Sementara itu, kafein sendiri dapat memberikan respons yang berbeda pada setiap individu. Artinya, zat tersebut berpotensi meningkatkan maupun mengurangi peradangan, bergantung pada berbagai kondisi.
Faktor lain yang juga tidak boleh diabaikan adalah bahan tambahan dalam secangkir kopi. Gula, krimer, dan bahan tinggi kalori lainnya dapat memengaruhi dampak minuman tersebut terhadap kesehatan dan berpotensi berkontribusi pada peradangan.
Efek kafein bagi tubuh
Salah satu efek yang paling dikenal dari kafein adalah meningkatkan kewaspadaan. Zat ini bekerja dengan merangsang sistem saraf pusat sehingga seseorang dapat merasa lebih terjaga dan fokus.
Namun, konsumsi kafein secara berlebihan dapat memicu sejumlah keluhan. Beberapa di antaranya adalah rasa gelisah, gugup, tubuh gemetar, hingga sulit tidur.
Di sisi lain, sejumlah penelitian juga mengaitkan konsumsi kopi dan kafein dengan manfaat tertentu bagi kesehatan. Tinjauan penelitian menemukan bahwa konsumsi kopi yang lebih tinggi berkaitan dengan risiko gagal jantung yang lebih rendah.
Ada pula bukti yang menunjukkan bahwa kafein berpotensi membantu menurunkan risiko depresi, meningkatkan ambang rasa sakit, serta mendukung fungsi sistem kekebalan tubuh, pencernaan, dan pernapasan.
Kafein juga memiliki sifat antioksidan. Artinya, zat ini dapat membantu melawan dampak radikal bebas yang berpotensi menyebabkan stres oksidatif dan kerusakan pada sel.
Selain itu, beberapa penelitian menunjukkan bahwa kafein mungkin berperan dalam membantu mengurangi kerusakan kulit yang disebabkan oleh paparan sinar ultraviolet atau UV.
Batas aman konsumsi kafein
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat atau FDA menyebut konsumsi hingga 400 miligram kafein per hari secara umum tidak dikaitkan dengan efek negatif bagi kebanyakan orang dewasa sehat.
Jumlah tersebut kira-kira setara dengan empat cangkir kopi, meskipun kandungan kafein setiap jenis dan ukuran sajian kopi dapat berbeda.
Agar asupan kafein tetap terkontrol, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.
1. Periksa kandungan produk kemasan
Kafein tidak hanya ditemukan dalam kopi atau teh. Beberapa produk lain juga dapat mengandung zat ini, termasuk protein bar, permen karet, hingga obat-obatan tertentu yang dijual bebas.
Jika kafein ditambahkan secara khusus ke dalam suatu produk, keberadaannya biasanya dapat dilihat pada daftar komposisi.
2. Jangan berlebihan mengonsumsi minuman energi
Kandungan kafein dalam minuman energi sangat beragam. Dalam ukuran sajian sekitar 16 ons, jumlahnya dapat berkisar antara 54 hingga 328 miligram.
Pada beberapa produk, satu kaleng minuman energi saja dapat menyumbang sebagian besar dari batas konsumsi kafein harian.
3. Pilih minuman rendah atau tanpa kafein
Bagi orang yang mudah mengalami efek samping akibat kafein, kopi atau teh tanpa kafein dapat menjadi alternatif.
Pilihan minuman dengan kandungan kafein lebih rendah juga dapat membantu mengurangi risiko munculnya keluhan seperti gelisah atau gangguan tidur.
Cara membantu mengurangi peradangan dalam tubuh
Respons tubuh terhadap kafein tidak selalu sama. Meski kopi mengandung sejumlah senyawa yang dikaitkan dengan efek antiperadangan, kafein dapat memberikan dampak berbeda pada setiap orang.
Selain itu, bahan tambahan dan pola hidup secara keseluruhan juga turut memengaruhi tingkat peradangan dalam tubuh.
Ada beberapa langkah umum yang dapat dilakukan untuk membantu menjaga peradangan tetap terkendali, antara lain:
- Mengurangi konsumsi makanan olahan dan produk kemasan.
- Memperbanyak makanan yang memiliki sifat antiperadangan, seperti apel dan brokoli.
- Menghindari atau menghentikan kebiasaan merokok.
- Membatasi konsumsi minuman beralkohol.
- Mengelola stres dengan baik.
- Mengurangi paparan bahan kimia yang berpotensi berbahaya.
- Memastikan waktu tidur tercukupi.
- Melakukan aktivitas fisik dan olahraga secara rutin.
Pada akhirnya, dampak kopi dan kafein terhadap peradangan dapat berbeda pada setiap individu. Karena itu, penting untuk memperhatikan jumlah konsumsi, bahan tambahan yang digunakan, serta respons tubuh setelah mengonsumsi minuman berkafein.
