
Jakarta – Keinginan menurunkan berat badan dalam waktu singkat membuat sebagian orang mencoba pola diet yang sangat ketat. Salah satunya adalah water fasting, yaitu tidak mengonsumsi makanan dan hanya mengandalkan air putih selama periode tertentu.
Metode tersebut memang dapat membuat angka di timbangan turun dengan cepat. Namun, penurunan berat badan tidak selalu berarti tubuh berada dalam kondisi yang lebih sehat. Kurangnya asupan energi dan nutrisi dalam waktu lama justru dapat memberikan tekanan bagi tubuh.
Sebuah penelitian yang dibahas ScienceAlert mengamati 20 orang yang menjalani puasa dengan hanya mengonsumsi air putih. Beberapa peserta bahkan melakukan metode tersebut selama sekitar 10 hari.
Berat Badan Turun, tetapi Ada Efek Samping
Hasil pengamatan menunjukkan seluruh peserta mengalami penurunan berat badan. Secara keseluruhan, bobot tubuh mereka berkurang hingga sekitar 7,7 persen.
Akan tetapi, penurunan berat badan tersebut disertai sejumlah perubahan yang perlu diperhatikan. Para peneliti menemukan indikasi peningkatan proses inflamasi dalam tubuh selama menjalani puasa air.
Luigi Fontana, ilmuwan dari University of Sydney, mengatakan penelitian tersebut mengarah pada dugaan bahwa puasa air dalam waktu panjang dapat memberikan tekanan terhadap tubuh dan memengaruhi respons inflamasi.
Salah satu indikator yang diamati adalah peningkatan protein tertentu yang berhubungan dengan peradangan, termasuk protein C-reaktif atau C-reactive protein (CRP) dalam darah.
Bisa Berdampak pada Otot dan Tulang
Ketika tubuh tidak mendapatkan asupan makanan dalam waktu lama, kebutuhan energi tetap harus dipenuhi. Kondisi ini dapat membuat tubuh menggunakan cadangan energi yang tersedia.
Penelitian tersebut juga menemukan perubahan yang dikaitkan dengan berkurangnya kekuatan otot dan tulang. Hal ini menjadi perhatian karena penurunan berat badan yang terlalu cepat tidak selalu berasal dari lemak tubuh saja.
Artinya, angka timbangan yang turun drastis tidak dapat dijadikan satu-satunya ukuran keberhasilan diet.
Ada Temuan Terkait Protein Amyloid Beta
Para peneliti juga mengamati perubahan pada amyloid beta protein, yaitu protein yang banyak diteliti karena hubungannya dengan penyakit Alzheimer.
Namun, temuan tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa puasa air dapat menyebabkan Alzheimer. Hubungan tersebut masih membutuhkan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui mekanisme dan dampaknya terhadap kesehatan otak.
Penelitian Masih Berskala Kecil
Hal penting yang perlu diperhatikan adalah jumlah peserta penelitian tersebut relatif sedikit. Dengan hanya 20 responden, hasilnya belum dapat digunakan untuk menggambarkan dampak puasa air pada seluruh populasi.
Selain itu, respons tubuh terhadap puasa dapat berbeda-beda tergantung usia, kondisi kesehatan, durasi puasa, serta faktor lainnya.
Karena itu, hasil penelitian tersebut sebaiknya dipandang sebagai gambaran awal mengenai perubahan yang mungkin terjadi selama menjalani puasa air, bukan sebagai bukti bahwa semua orang akan mengalami efek yang sama.
Diet Air Putih Tidak Sebaiknya Dilakukan Sembarangan
Puasa dengan hanya mengonsumsi air putih bukan metode penurunan berat badan yang sebaiknya dilakukan tanpa pertimbangan matang. Tubuh tetap membutuhkan protein, karbohidrat, lemak, vitamin, mineral, dan berbagai zat gizi untuk menjalankan fungsi normal.
Penurunan berat badan yang lebih berkelanjutan umumnya dilakukan dengan mengatur pola makan, mengontrol asupan kalori, serta meningkatkan aktivitas fisik sesuai kemampuan.
Jika seseorang tetap ingin mencoba puasa atau pola diet ekstrem, terutama dalam beberapa hari, sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter. Pengawasan tenaga kesehatan diperlukan untuk menilai apakah metode tersebut sesuai dengan kondisi tubuh dan untuk memantau kemungkinan munculnya efek samping.
