
Jakarta – Tren mencampurkan Diet Coke atau minuman soda tanpa gula dengan bubuk protein tengah ramai di media sosial. Banyak orang mencoba kombinasi ini karena dianggap sebagai cara praktis untuk meningkatkan asupan protein, sekaligus memberikan sensasi minuman yang lebih segar.
Video mengenai racikan tersebut telah beredar luas di TikTok maupun Instagram. Sebagian pengguna mengklaim minuman ini dapat membantu pemulihan otot, mendukung olahraga, hingga menunjang program penurunan berat badan.
Namun, para ahli kesehatan mengingatkan bahwa tren yang populer di media sosial belum tentu memiliki manfaat yang terbukti secara ilmiah.
Mengutip First Post (19/06/2026), dokter spesialis penyakit dalam menjelaskan bahwa belum ada penelitian kuat yang membuktikan campuran Diet Coke dan bubuk protein memberikan manfaat tambahan bagi tubuh.
1. Tidak Ada Bukti Campuran Diet Coke dan Protein Lebih Efektif
Tren ini dilakukan dengan mencampurkan bubuk protein ke dalam Diet Coke atau minuman berkarbonasi tanpa gula lainnya. Banyak yang menganggap cara tersebut dapat menjadi alternatif protein shake biasa karena terasa lebih ringan dan menyegarkan.
Namun, menurut Konsultan Penyakit Dalam Rumah Sakit Amrita Faridabad, Dr. Mohit Sharma, belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan kombinasi tersebut dapat meningkatkan penyerapan protein, mempercepat pemulihan otot, memperbaiki metabolisme, meningkatkan performa olahraga, atau membantu penurunan berat badan.
Ia menyebut belum tersedia uji klinis yang menunjukkan adanya keuntungan khusus dari mencampurkan suplemen protein dengan soda diet.
2. Soda Tidak Membuat Protein Bekerja Lebih Optimal
Salah satu klaim yang beredar menyebut karbonasi dalam Diet Coke dapat membantu protein bekerja lebih baik di dalam tubuh. Namun, klaim tersebut belum memiliki dasar ilmiah.
Dr. Sharma menjelaskan bahwa protein tetap melalui proses pencernaan normal di lambung dan usus halus dengan bantuan asam lambung serta enzim pencernaan.
Karbonasi maupun pemanis buatan dalam minuman soda tidak berperan dalam meningkatkan proses tersebut. Protein tetap diproses dengan cara yang sama, baik dikonsumsi bersama air, susu, maupun minuman bersoda.
3. Bisa Memicu Masalah Pencernaan
Meskipun tidak terbukti memberikan manfaat tambahan, kombinasi bubuk protein dan Diet Coke berpotensi menimbulkan gangguan pencernaan pada sebagian orang.
Minuman berkarbonasi dapat meningkatkan jumlah gas dalam lambung sehingga menyebabkan perut terasa penuh, kembung, sering bersendawa, atau memperburuk keluhan asam lambung seperti GERD.
Ketika bubuk protein dicampurkan ke dalam soda, pelepasan karbon dioksida juga dapat menghasilkan busa dalam jumlah lebih banyak.
Menurut Sharma, kondisi tersebut bisa meningkatkan volume lambung dan memicu rasa mual atau ketidaknyamanan, terutama jika minuman dikonsumsi terlalu cepat.
4. Asupan Protein Berlebihan Juga Perlu Diwaspadai
Meningkatnya popularitas suplemen protein membuat banyak orang menambah asupan protein tanpa menghitung kebutuhan tubuh terlebih dahulu.
Padahal, kebutuhan protein setiap orang berbeda tergantung usia, aktivitas fisik, kondisi kesehatan, serta pola makan sehari-hari.
Dr. Sharma mengingatkan bahwa sebagian orang sebenarnya sudah mendapatkan cukup protein dari makanan, tetapi tetap menambahkan suplemen tanpa mempertimbangkan kebutuhan tubuh.
Dalam kondisi tertentu, konsumsi protein berlebihan dalam jangka panjang dapat meningkatkan beban metabolisme pada ginjal, terutama bagi orang yang memiliki masalah fungsi ginjal.
5. Tren Minuman Protein Lain Juga Belum Terbukti
Sebelum tren Diet Coke campur protein, media sosial juga sempat ramai dengan istilah “proffee”, yaitu perpaduan kopi dengan bubuk protein atau minuman protein siap konsumsi.
Minuman ini banyak diminati karena dianggap mampu menggabungkan efek kafein untuk meningkatkan energi dengan manfaat protein dalam satu sajian.
Namun, para ahli menyebut belum ada bukti kuat bahwa proffee memberikan manfaat kebugaran yang lebih besar dibandingkan mengonsumsi kopi dan protein secara terpisah.
Efek terhadap energi, pembentukan otot, maupun penurunan berat badan tetap bergantung pada pola makan keseluruhan, aktivitas fisik, dan kebutuhan nutrisi masing-masing individu.
Pada akhirnya, memenuhi kebutuhan protein tetap lebih baik dilakukan dengan perhitungan yang sesuai kebutuhan tubuh, bukan sekadar mengikuti tren minuman viral di media sosial.
