
Jakarta – Menyimpan roti di dalam freezer umumnya dilakukan agar masa simpannya lebih panjang. Namun ternyata, kebiasaan sederhana ini juga dapat mengubah struktur karbohidrat dalam roti dan memberikan manfaat tambahan bagi kesehatan.
Mengutip HuffPost, proses pembekuan yang diikuti dengan pencairan dan pemanggangan kembali dapat memengaruhi pati yang terkandung dalam roti. Perubahan ini dikenal sebagai proses retrogradasi, yaitu ketika molekul pati mengalami penyusunan ulang setelah terkena suhu dingin.
Akibat proses tersebut, sebagian pati berubah menjadi pati resisten (resistant starch). Berbeda dengan pati biasa yang mudah dicerna tubuh, pati resisten lebih sulit dipecah di usus halus sehingga sebagian besar dapat mencapai usus besar dalam kondisi utuh.
Karena proses pencernaannya lebih lambat, pati resisten tidak langsung diubah menjadi gula dengan cepat. Dampaknya, kadar glukosa darah cenderung meningkat lebih perlahan dibandingkan saat mengonsumsi roti yang masih segar.
Efek ini membuat roti yang telah melalui proses pembekuan berpotensi lebih ramah bagi orang yang ingin menjaga kestabilan gula darah, termasuk mereka yang memiliki risiko diabetes atau pradiabetes.
Selain membantu mengendalikan respons gula darah, pati resisten juga berperan seperti serat makanan. Senyawa ini menjadi sumber nutrisi bagi bakteri baik di dalam usus yang berperan penting dalam menjaga kesehatan sistem pencernaan.
Saat difermentasi oleh mikroorganisme usus, pati resisten menghasilkan asam lemak rantai pendek (short-chain fatty acids), yaitu senyawa yang diketahui mendukung fungsi usus dan membantu menjaga kesehatan saluran cerna secara keseluruhan.
Meski demikian, jumlah pati resisten yang terbentuk tidak selalu sama pada setiap jenis roti. Kandungannya dapat dipengaruhi oleh bahan baku, proses pembuatan, hingga cara penyimpanan dan pengolahannya setelah dikeluarkan dari freezer.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa roti yang dibekukan lalu dipanggang kembali cenderung menghasilkan lebih banyak pati resisten dibandingkan roti yang hanya dicairkan tanpa dipanaskan ulang.
Walaupun memiliki manfaat tambahan, para ahli mengingatkan bahwa perubahan ini tidak membuat roti otomatis menjadi makanan super sehat. Peningkatan kandungan pati resisten memang dapat memberikan keuntungan nutrisi tertentu, tetapi manfaatnya tetap relatif terbatas dan tidak bisa menggantikan pentingnya pola makan bergizi seimbang secara keseluruhan.
