
Jakarta – Fat choy belakangan ramai diperbincangkan di media sosial setelah digunakan sebagai hiasan pada berbagai makanan, mulai dari croissant hingga cake. Bentuknya yang menyerupai helaian rambut hitam memicu beragam reaksi warganet. Bahkan, tak sedikit yang menyamakannya dengan rambut kemaluan sehingga tampilannya dianggap kurang menggugah selera.
Di balik kontroversi tersebut, fat choy ternyata merupakan bahan pangan tradisional yang telah lama dikenal dalam budaya Tionghoa. Selain memiliki bentuk yang unik, bahan ini juga dipercaya melambangkan keberuntungan dan kemakmuran.
Berikut beberapa fakta menarik mengenai fat choy.
1. Bukan Rambut ataupun Rumput Laut
Meski tampilannya menyerupai rambut kusut berwarna hitam, fat choy sama sekali bukan rambut maupun rumput laut. Bahan ini merupakan koloni sianobakteri dengan nama ilmiah Nostoc flagelliforme yang tumbuh alami di wilayah padang rumput dan gurun di China bagian utara serta Mongolia.
Karena bentuknya yang panjang dan tipis seperti helaian rambut, fat choy juga dikenal dengan sebutan hair vegetable. Setelah dikeringkan, teksturnya menjadi ringan dan mudah digunakan sebagai bahan masakan.
2. Memiliki Makna Keberuntungan
Fat choy mempunyai nilai simbolis yang kuat dalam tradisi masyarakat Tionghoa. Penyebabnya adalah pelafalan nama “fat choy” yang terdengar hampir sama dengan frasa Mandarin fa cai, yang berarti memperoleh kekayaan atau rezeki.
Kesamaan bunyi tersebut membuat fat choy identik dengan doa akan kemakmuran. Tak heran jika bahan ini sering disajikan saat perayaan Tahun Baru Imlek sebagai simbol harapan agar tahun yang baru membawa keberuntungan bagi keluarga.
3. Termasuk Bahan Pangan Bernilai Tinggi
Selain unik, fat choy juga dikenal sebagai bahan makanan premium. Harga jualnya relatif mahal karena pertumbuhannya sangat lambat di habitat alami dan proses pemanenannya membutuhkan ketelitian.
Untuk kualitas yang baik, kemasan kecil seberat sekitar 50 gram dapat dibanderol ratusan ribu rupiah. Sementara produk berkualitas premium dengan ukuran lebih besar bisa dijual hingga lebih dari satu juta rupiah.
4. Mengandung Berbagai Nutrisi
Walaupun umumnya hanya digunakan dalam jumlah sedikit, fat choy tetap mengandung sejumlah zat gizi penting. Di antaranya serat, protein, zat besi, kalsium, magnesium, hingga kalium.
Nutrisi tersebut bermanfaat untuk mendukung kesehatan pencernaan serta membantu memenuhi kebutuhan mineral tubuh. Namun karena porsinya dalam masakan relatif sedikit, kontribusi gizinya terhadap kebutuhan harian juga tidak terlalu besar.
5. Banyak Digunakan dalam Masakan Tradisional
Fat choy telah lama dimanfaatkan dalam berbagai hidangan khas China. Bahan ini sering dimasukkan ke dalam sup, masakan vegetarian ala Buddha, tumisan jamur, hingga berbagai sajian tradisional lainnya.
Sebelum dimasak, fat choy biasanya direndam terlebih dahulu agar teksturnya kembali lembut. Setelah itu, bahan ini mampu menyerap kuah dan bumbu dengan baik sehingga memberikan cita rasa yang lebih kaya pada masakan.
Meski kini viral karena tampilannya yang dianggap tidak biasa, fat choy sejatinya merupakan bahan pangan tradisional yang memiliki nilai budaya tinggi dan telah menjadi bagian dari kuliner Tionghoa selama bertahun-tahun.
