Pernah nggak sih kamu ngerasa punya tabungan banyak, rencana liburan udah matang, tapi malah mager gerak dari kasur? Nah, kondisi Kota Binjai sekarang ini mirip-mirip kayak gitu. Pemerintah Kota Binjai baru saja dapet suntikan dana segar alias Transfer ke Daerah (TKD) sebesar Rp 146,72 miliar. Dana ini ibarat "kartu sakti" yang ditujukan khusus buat beresin sisa-sisa bencana yang sempat bikin kota ini kewalahan. Tapi, kalau cuma punya uangnya saja tanpa eksekusi, ya sama aja kayak beli tiket bioskop tapi malah ketiduran di depan pintu studio.
Sampai per tanggal 27 Agustus 2026, ternyata serapan dananya baru kesentuh angka Rp 821,54 juta. Kalau dipresentasekan, itu baru sekitar 0,56 persen. Kecil banget, kan? Ibarat disuruh lari maraton, Binjai baru banget narik napas di garis start, padahal garis finish-nya masih jauh di depan mata. Makanya, Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) lagi nge-gas pol supaya roda birokrasi ini nggak macet kayak jalanan ibu kota di jam pulang kantor.
Kenapa Sih Harus "Gaspol" Sekarang?
Mungkin kamu bertanya-tanya, kenapa sih mesti buru-buru? Kenapa nggak santai aja kayak di pantai? Jawabannya sederhana: Bencana itu nggak nunggu kita siap. Infrastruktur yang rusak, sekolah yang bocor, sampai sungai yang perlu dinormalisasi itu adalah "luka" yang kalau didiamkan terlalu lama malah bakal makin parah infeksinya.
Pemerintah Kota Binjai sudah menyiapkan 264 paket pekerjaan. Bayangkan 264 paket ini sebagai daftar belanjaan ibu yang sangat panjang di pasar. Ada yang sudah di kasir (tender), ada yang masih dipilih-pilih di rak (perencanaan), dan ada yang sudah masuk keranjang belanja (realisasi). Masalahnya, kalau kelamaan milih barang di rak, nanti keburu tokonya tutup alias masa anggaran berakhir. Makanya, Marsma TNI Ridha Hermawan selaku Wakil Kepala Posko Nasional Satgas PRR menegaskan bahwa koordinasi lintas sektor itu harga mati. Harus ada kerja sama tim yang solid, bukan malah saling lempar tanggung jawab.
Sektor Pendidikan: Memperbaiki "Rumah Kedua"
Anak-anak sekolah di Binjai butuh tempat belajar yang aman. Nggak lucu kan kalau lagi serius belajar matematika, tiba-tiba plafon kelas "menyapa" dari atas? Pemerintah sudah memprioritaskan perbaikan untuk 21 Sekolah Dasar (SD) dan 2 Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang mengalami kerusakan ringan hingga sedang.
Ini bukan cuma soal ngecat tembok atau ganti genteng, tapi soal masa depan. Kalau sekolahnya nyaman, semangat belajarnya juga pasti naik. Analoginya, kalau kamu mau main game kompetitif, pasti butuh koneksi internet yang stabil dan device yang mumpuni, kan? Begitu juga dengan sekolah. Lingkungan belajar yang prima adalah "koneksi internet" buat otak para siswa di Binjai.
Sungai, Jembatan, dan Hunian: Membenahi Urat Nadi Kota
Selain sekolah, ada tiga sungai besar yang jadi perhatian utama: Sungai Bingai, Sungai Mencirim, dan Sungai Bangkatan. Normalisasi sungai ini ibarat kita lagi membersihkan saluran air di rumah yang mampet. Kalau salurannya lancar, air nggak bakal "ngambek" dan meluap ke mana-mana saat hujan turun deras. Untuk Sungai Bingai dan Mencirim, urusannya bakal dioper ke Kementerian Pekerjaan Umum, sementara Sungai Bangkatan bakal langsung digarap pakai dana TKD.
Lalu, gimana dengan warga yang kehilangan tempat tinggal? Ada 22 unit hunian tetap (huntap) dengan skema in situ atau pembangunan di lokasi asal. Ini seperti membangun kembali fondasi rumah yang sempat retak. Memang saat ini masih tahap perencanaan, tapi anggarannya sudah ada di kantong BNPB. Tinggal eksekusinya saja yang perlu dipercepat.
Oh ya, jangan lupa ada jembatan di Kelurahan Tanah Merah, Kecamatan Binjai Selatan yang sudah "pensiun dini" sejak 2024. Kabar baiknya, jembatan ini sudah masuk daftar prioritas dana hibah BNPB. Setelah jembatan ini jadi, akses mobilitas warga pasti bakal kembali lancar jaya, nggak perlu lagi muter-muter jauh cuma buat nyeberang. Kalau kamu tertarik melihat bagaimana efisiensi birokrasi bisa mengubah hidup warga, coba cek ulasan kami tentang manajemen krisis modern yang pernah kami bahas sebelumnya.
Tantangan Rumah Ibadah dan Ekonomi Kreatif
Satu hal yang jadi catatan menarik adalah nasib rumah ibadah. Dari 8 rumah ibadah yang terdampak, baru satu vihara yang sudah mendapat kepastian pendanaan. Sisanya, 5 rusak ringan dan 2 rusak sedang, masih dalam tahap "diupayakan". Ini seperti puzzle yang belum lengkap. Kita semua tahu kalau rumah ibadah itu bukan cuma bangunan, tapi pusat kegiatan spiritual dan sosial masyarakat. Semoga saja sisa rumah ibadah ini segera mendapatkan perhatian yang sama.
Di sisi lain, sektor ekonomi masyarakat juga nggak luput dari perhatian. Kementerian Ekonomi Kreatif sudah terjun langsung dengan mengadakan pelatihan teknik kriya anyam bagi 50 peserta. Ini langkah cerdas! Alih-alih cuma ngasih ikan, pemerintah ngasih kail. Dengan skill anyaman, warga Binjai bisa bikin produk bernilai jual tinggi. Kalau penasaran gimana cara membangun bisnis dari nol, kamu bisa baca tips memulai usaha kreatif yang sudah kami rangkum di blog ini.
Menuju Binjai yang Lebih Tangguh
Melihat progres 264 paket ini, kita bisa belajar satu hal: birokrasi itu memang kompleks. Ada 113 paket di tahap perencanaan, 122 di proses tender, 25 e-purchasing, dan 2 pengadaan langsung. Angka-angka ini bukan sekadar statistik membosankan, melainkan simbol harapan bagi warga Binjai.
Bayangkan jika semua 264 paket ini tuntas. Sekolah jadi bagus, sungai nggak meluap, rumah ibadah rapi, dan jembatan kokoh kembali. Binjai nggak cuma jadi kota yang pulih dari bencana, tapi kota yang lebih tangguh dari sebelumnya. Ibarat smartphone yang habis di-update sistem operasinya, Binjai akan terasa lebih cepat, responsif, dan siap menghadapi "bug" atau masalah di masa depan.
Kuncinya sekarang ada di kecepatan. Sinergi antara Pemkot Binjai dan kementerian terkait adalah mesin penggerak utama. Jangan sampai mesinnya sudah bagus, tapi bensinnya (anggarannya) malah tersendat karena proses administratif yang berbelit. Seperti kata Marsma TNI Ridha Hermawan, percepatan koordinasi itu mutlak. Semua pihak harus duduk bareng, samakan persepsi, dan langsung eksekusi di lapangan.
Jadi, buat warga Binjai, mari kita kawal sama-sama proses ini. Kalau melihat ada progres di lapangan, itu artinya uang pajak dan anggaran negara sedang bekerja untuk kenyamanan kalian. Dan buat para pengambil kebijakan, tetap semangat ya! Rakyat menunggu hasil kerja nyata, bukan cuma tumpukan kertas laporan di atas meja. Semoga proses pemulihan ini berjalan mulus tanpa ada "batu sandungan" yang berarti. Karena pada akhirnya, kota yang hebat adalah kota yang peduli pada setiap jengkal infrastrukturnya dan setiap warga yang menghuninya.
Mari kita nantikan wajah baru Binjai yang lebih cerah, lebih aman, dan tentunya lebih asyik buat ditinggali. Karena kalau bukan sekarang, kapan lagi? Kalau bukan kita yang peduli, siapa lagi? Stay tuned terus untuk update selanjutnya, karena setiap perubahan kecil di kota kita adalah langkah besar menuju masa depan yang lebih baik.
