Pernah nggak sih kamu ngerasa lagi asyik-asyiknya nongkrong, eh tiba-tiba cuaca berubah jadi panas banget, tenggorokan kering, dan udara di luar rasanya kayak lagi dipanggang? Nah, itu baru skala kecil. Bayangin kalau kondisi itu terjadi di satu provinsi penuh, ditambah ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang bikin napas jadi sesak. Itulah yang lagi dialami saudara-saudara kita di Sumatera Selatan (Sumsel). Di tengah fenomena El Nino yang bikin musim kemarau jadi terasa lebih "menggigit" di tahun 2026 ini, Gubernur Sumsel, Herman Deru, turun gunung buat ngajak warganya "bergandengan tangan" biar situasi nggak makin runyam.
Buat kita yang tinggal di kota besar, mungkin cuma ngerasain panasnya aja. Tapi buat warga yang lahannya kering kerontang, ini adalah ujian kesabaran yang luar biasa. Ibarat lagi main game strategi, kita nggak bisa cuma fokus sama satu titik doang. Kalau satu bagian hutan terbakar, asapnya bisa "menjajah" ke mana-mana, bikin kualitas udara (ISPU) jadi naik turun kayak grafik harga saham lagi galau.
Bukan Saatnya Saling Tuding, Saatnya "Gotong Royong" Mode On!
Dalam situasi krisis, wajar kalau orang mulai panik dan ujung-ujungnya cari "kambing hitam". Ada yang nyalahin cuaca, ada yang nyalahin pemerintah, sampai ada yang sibuk berdebat di media sosial. Tapi, Herman Deru punya pandangan yang beda. Beliau dengan tegas bilang kalau sekarang ini bukan waktunya buat saling mencaci atau cari siapa yang salah.
Ibarat sebuah mobil yang mogok di tengah jalan tol, kalau penumpangnya cuma sibuk ribut soal siapa yang salah pilih jalur, mobilnya nggak akan jalan-jalan. Yang dibutuhkan justru semua orang turun, bantu dorong mobilnya bareng-bareng sampai ke pinggir atau bengkel terdekat. Nah, itulah semangat gotong royong yang beliau gaungkan. Dari TNI, Polri, Babinsa, Bhabinkamtibmas, sampai masyarakat sipil, semua harus "satu frekuensi" buat jagain lahan biar nggak ada lagi percikan api yang memicu bencana lebih besar.
Kalau bicara soal angka, sepanjang tahun 2026 ini, tercatat sudah ada sekitar 1.950 hektare lahan yang sempat kena "sentuhan" api. Memang terdengar fantastis dan ngeri, ya? Tapi berkat kerja keras tim gabungan, angka itu terus ditekan. Laporan terakhir nunjukin sisa 199 hektare yang masih jadi fokus penanganan. Masih ada PR, tapi kita harus apresiasi setiap jengkal upaya yang dilakukan buat "memadamkan" masalah ini.
Salat Istisqa: "Software" Kedamaian Hati di Tengah Panasnya Bumi
Di tengah upaya fisik yang mati-matian, Herman Deru nggak lupa sama sisi spiritual. Beliau mengajak masyarakat untuk melakukan Salat Istisqa di Griya Agung, Palembang. Buat kamu yang mungkin belum familiar, Salat Istisqa itu ibarat cara kita "curhat" sama Sang Pencipta buat minta bantuan hujan.
Banyak orang yang cuma ngandelin tenaga, padahal di dunia ini ada hal-hal yang di luar kendali manusia. Ibarat kamu udah punya koneksi internet super kencang, tapi kalau server pusatnya lagi down, ya tetap nggak bisa akses apa-apa. Nah, Salat Istisqa ini adalah cara kita "menghubungkan diri" kembali ke Pusat Semesta, memohon agar kemarau panjang ini segera berakhir dan rahmat-Nya diturunkan.
Nggak cuma di tingkat provinsi, para Bupati, Wali Kota, sampai Forkopimda di seluruh wilayah Sumsel diminta buat ngelakuin hal yang sama. Tujuannya satu: menciptakan energi positif. Ketika semua orang berdoa dengan tulus, suasana batin jadi lebih tenang. Dan kalau hati sudah tenang, kita jadi lebih bijak dalam bertindak, nggak gampang emosi, dan jauh lebih peduli sama lingkungan sekitar. Ini sebenarnya adalah tips menjaga kesehatan mental di tengah isu lingkungan yang sangat relevan buat kita semua sekarang.
Empati Tanpa Batas: Ingat, Kita Belum Seberapa
Ada satu poin menarik dari pidato Herman Deru yang bikin kita harus berhenti sejenak dan merenung. Beliau mengingatkan warga Sumsel buat tetap bersyukur. Kenapa? Karena di luar sana, masih banyak saudara kita yang sedang menghadapi cobaan yang jauh lebih berat, contohnya saudara kita di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang lagi kena musibah.
Ini adalah bentuk kecerdasan emosional yang luar biasa. Seringkali, kita merasa masalah kita adalah yang paling berat di dunia. Padahal, kalau kita mau melihat sedikit ke luar jendela, ada orang lain yang perjuangannya mungkin sepuluh kali lipat lebih sulit. Ajakan beliau buat bantu warga NTT bukan sekadar aksi sosial biasa, tapi bentuk pengingat kalau kita semua itu "satu tubuh". Kalau satu bagian sakit, yang lain harusnya ikut merasakan.
Mengapa "Kolaborasi" Adalah Kunci Utama?
Mungkin ada yang tanya, "Kenapa sih harus repot-repot kolaborasi?" Jawabannya simpel: karena kita hidup di udara yang sama. Asap karhutla itu nggak punya KTP, dia nggak bakal berhenti di perbatasan kota atau kabupaten. Kalau satu wilayah lalai, wilayah tetangga pun kena dampaknya.
Ibarat rumah susun yang saling berdempetan, kalau tetangga sebelah rumahnya masak sampai gosong dan apinya merembet, kamu juga bakal kena imbasnya. Jadi, menjaga kondusivitas itu bukan sekadar kewajiban pemerintah, tapi kebutuhan kita semua. Inilah yang disebut dengan Hablumminannas (hubungan baik antarmanusia) yang ditekankan dalam khutbah Dr. H. Abdurahman Ramli, S.Ag., M.Pd.I. Beliau berpesan agar kita mulai introspeksi diri: kurangi iri, buang jauh-jauh sikap sombong, dan mulai perbanyak peduli.
Menghadapi Masa Depan dengan Kepala Dingin
Kita hidup di zaman di mana informasi bisa tersebar dalam hitungan detik. Berita tentang karhutla atau cuaca ekstrem bisa bikin orang panik. Tapi, kalau kita belajar dari cara Herman Deru memimpin, kuncinya ada pada "Tenang, Berusaha, dan Berdoa".
- Tenang: Jangan gampang kemakan hoaks atau berita provokatif yang cuma bikin suasana makin panas.
- Berusaha: Lakukan aksi nyata, sekecil apa pun itu. Misalnya, jangan buang puntung rokok sembarangan atau jangan buka lahan dengan cara membakar.
- Berdoa: Jaga hubungan baik dengan Tuhan dan sesama, karena kekuatan kolektif itu energinya luar biasa.
Jika kamu merasa artikel ini membantu mencerahkan pikiranmu tentang bagaimana seharusnya kita bersikap di tengah krisis, jangan ragu untuk bagikan ke teman-temanmu. Kita bisa belajar banyak hal menarik lainnya soal cara mengelola krisis hidup dengan gaya yang santai di artikel kami yang lain.
Kesimpulan: Kita Adalah Penjaga Alam Ini
Pada akhirnya, musim kemarau dan fenomena El Nino hanyalah "tamu" yang bakal lewat. Tapi, cara kita menyambut tamu itulah yang bakal nentuin apakah kita bakal hancur atau justru makin kuat. Herman Deru telah memberikan contoh bagaimana seorang pemimpin mengajak warganya untuk tidak menjadi "penonton" atas musibah, melainkan menjadi "aktor" dalam solusi.
Mari kita jadikan momen ini sebagai pengingat kalau alam itu butuh dirawat, bukan sekadar dieksploitasi. Kalau kita kompak, kalau kita bisa saling jaga, dan kalau kita tetap menaruh kepedulian di atas ego pribadi, maka badai atau kemarau seberat apa pun pasti bakal bisa kita lewati.
Sumsel kuat, warganya hebat, dan harapannya tentu saja: hujan segera turun membasahi bumi, membawa kesegaran yang selama ini kita nanti-nantikan. Tetap semangat, tetap jaga kesehatan, dan jangan lupa untuk selalu jadi orang baik di tengah situasi apa pun! Sampai jumpa di pembahasan seru lainnya, ya!
