
Jakarta – Mengurangi asupan gula tambahan yang banyak ditemukan dalam makanan dan minuman olahan dapat memberikan sejumlah perubahan pada tubuh. Lantas, apa yang terjadi jika seseorang berhenti mengonsumsi gula selama dua minggu?
Dikutip dari Ladbible, Dr. Eric Berg menjelaskan melalui akun TikTok-nya bahwa tubuh dapat mengalami sejumlah perubahan ketika asupan gula dihentikan. Pada tahap awal, seseorang mungkin justru merasakan keinginan kuat untuk kembali mengonsumsi makanan atau minuman manis.
Hal tersebut dapat terjadi karena otak sudah terbiasa mendapatkan sensasi menyenangkan dari konsumsi gula. Akibatnya, ketika asupannya dikurangi, sebagian orang dapat mengalami keluhan seperti mudah marah, lelah, sakit kepala, hingga mual.
Menurut Berg, keluhan tersebut dapat muncul ketika tubuh sedang menyesuaikan diri dengan perubahan pola makan. Karena itu, ia menyarankan pengurangan gula dilakukan secara bertahap agar fase awal dapat dilalui dengan lebih nyaman.
Setelah tubuh mulai terbiasa dengan rendahnya asupan gula tambahan, sejumlah perubahan positif berpotensi dirasakan.
Energi Mulai Lebih Stabil
Salah satu perubahan yang disebutkan Berg adalah pergeseran sumber energi. Ketika asupan gula tambahan berkurang, tubuh dapat lebih banyak memanfaatkan cadangan energi, termasuk lemak.
Kondisi tersebut pada sebagian orang dapat membuat energi terasa lebih stabil dan tubuh tidak mudah bergantung pada asupan makanan manis untuk mendapatkan tenaga.
“Anda akan memiliki lebih banyak energi karena tubuh mulai memanfaatkan cadangan lemak sebagai sumber energi,” ujar Berg.
Fokus dan Konsentrasi Bisa Meningkat
Setelah melewati masa adaptasi, kemampuan berkonsentrasi juga disebut dapat mengalami perubahan. Berg menyebut fokus dan konsentrasi berpotensi meningkat ketika tubuh sudah terbiasa dengan pola makan rendah gula.
Sebagian orang juga dapat merasakan suasana hati yang lebih stabil setelah mengurangi konsumsi makanan dan minuman tinggi gula.
Peradangan dan Keluhan Fisik Berpotensi Berkurang
Mengurangi gula juga disebut dapat memberikan dampak pada kondisi fisik. Peradangan serta rasa nyeri tertentu berpotensi berkurang setelah tubuh beradaptasi dengan pola makan yang lebih rendah gula.
Namun, respons setiap orang dapat berbeda dan perubahan tersebut tidak bisa dianggap sebagai efek yang pasti terjadi pada semua orang.
Kondisi Kulit Bisa Lebih Baik
Perubahan lainnya yang disoroti adalah kesehatan kulit. Mengurangi konsumsi gula berlebihan berpotensi membantu kulit terlihat lebih sehat.
“Anda akan menyadari bahwa kondisi kulit Anda menjadi jauh lebih baik dan tampak lebih sehat bercahaya,” sambung Berg.
Konsumsi gula berlebihan sendiri kerap dikaitkan dengan berbagai masalah kulit, termasuk munculnya jerawat. Karena itu, membatasi makanan dan minuman tinggi gula dapat menjadi salah satu bagian dari pola makan yang lebih sehat.
Jangan Sembarangan Menghentikan Gula
Meski terdengar menjanjikan, perubahan pola makan tetap perlu dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan nutrisi tubuh. Mengurangi gula tambahan tidak berarti harus menghilangkan seluruh sumber karbohidrat atau makanan bergizi dari menu sehari-hari.
Bagi sebagian orang, mengurangi konsumsi gula secara perlahan dapat menjadi pendekatan yang lebih mudah dipertahankan dibandingkan menghentikannya secara mendadak.
Jika ingin melakukan perubahan pola makan secara signifikan, terutama bagi orang dengan kondisi kesehatan tertentu, sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter atau ahli gizi. Dengan begitu, kebutuhan nutrisi tetap terpenuhi selama proses mengurangi gula.
