Pernah nggak sih kamu ngerasa kalau dunia ini lagi bising banget? Di tengah hiruk-pikuk notifikasi media sosial, berita politik yang bikin pening, dan polusi suara yang nggak ada habisnya, ada sekelompok orang yang hidupnya justru selaras banget sama irama napas bumi. Mereka adalah masyarakat adat Baduy di Gunung Kendeng, Kabupaten Lebak. Tapi, hari ini, komunitas itu lagi diselimuti mendung. Salah satu pilar utamanya, Jaro Saidi Putra, yang menjabat sebagai Jaro Tanggungan 12, baru saja berpulang ke pangkuan Sang Pencipta.
Mungkin kamu bertanya-tanya, siapa sih Jaro Saidi itu dan kenapa kepergiannya bikin banyak orang merasa kehilangan? Ibarat sebuah sistem operasi di komputer yang super kompleks, Jaro Tanggungan 12 ini adalah firewall sekaligus admin utama yang menjaga agar "program" tradisi dan nilai leluhur di Baduy tetap berjalan tanpa bug dari pengaruh dunia luar yang makin hari makin nggak karuan.
Siapa Sih Jaro Tanggungan 12 Itu? (Analogi Sang Penjaga Gerbang)
Bayangkan sebuah komunitas adat itu seperti sebuah private server yang sangat eksklusif. Di sana, aturan mainnya bukan pakai hukum negara biasa, tapi pakai hukum adat yang sudah berusia ratusan tahun. Nah, Jaro Tanggungan 12 ini punya peran yang krusial banget. Dia bukan cuma sekadar tokoh yang dituakan, tapi dia adalah jembatan atau interface yang menghubungkan dunia Baduy yang tenang dengan kita-kita yang hidup di dunia modern yang penuh drama ini.
Dalam tugasnya, beliau memegang tanggung jawab yang berat banget, yaitu menjaga agar hubungan antara warga adat dan pemerintah tetap harmonis. Salah satu momen ikonik yang sering kita lihat adalah acara Seba Baduy. Kalau kamu belum tahu, Seba itu semacam acara "lapor diri" atau silaturahmi akbar masyarakat Baduy kepada pemerintah daerah. Di sinilah Jaro Saidi bertugas membacakan Murwa Seba.
Murwa Seba itu bukan sekadar baca teks pidato biasa, lho. Itu adalah warisan amanat leluhur yang isinya "pengingat" buat kita semua. Ibaratnya, kalau kita lagi error karena kebanyakan main gadget dan lupa sama alam, Jaro Saidi lewat Murwa Seba itu ibarat update patch terbaru yang ngingetin kita: "Woi, ingat, kalian itu tinggal di bumi, bukan di awang-awang!"
Alam Bukan Sekadar Latar Belakang, Tapi Paru-Paru Kehidupan
Salah satu pesan paling powerful dari Jaro Saidi yang masih terngiang adalah tentang bagaimana manusia dan alam itu sebenarnya satu kesatuan. Kita sering banget mikir kalau alam itu cuma tempat kita ambil bahan baku, kayak kita buka kulkas buat ambil camilan. Kalau habis, ya beli lagi. Padahal, menurut Jaro Saidi, alam itu adalah rumah besar. Kalau rumahnya bocor atau kotor, ya kita sendiri yang bakal kebasahan.
Beliau sering banget nyentil soal masalah pencemaran sungai. Kita tahu sendiri kan, sungai-sungai di kota besar sekarang lebih mirip saluran pembuangan raksasa daripada sumber air bersih. Limbah rumah tangga, plastik yang nggak terurai, sampai limbah industri—semuanya dibuang ke sana seolah sungai punya tombol delete otomatis.
Padahal, air itu ibarat darah dalam tubuh bumi. Kalau darahnya kotor, ya organ tubuhnya (alias kita semua) bakal sakit. Pesan Jaro Saidi sangat to the point: "Air adalah sumber kehidupan." Sesederhana itu. Tapi, kenapa kita yang merasa "pintar" ini justru sering melanggar aturan paling dasar itu? Kepergian beliau seolah jadi pengingat keras kalau kita butuh lebih banyak orang yang peduli pada keberlangsungan lingkungan daripada sekadar mengejar trending topic. Kalau kamu mau belajar lebih banyak soal cara hidup yang lebih sustainable di tengah dunia yang serba cepat, mungkin kamu bisa intip tips gaya hidup minimalis yang perlahan bisa membantu mengurangi jejak karbon kita.
Pantun Anti-Korupsi: Sindiran Manis dari Kedalaman Hutan
Ada satu momen yang bikin netizen dan banyak orang tersenyum sekaligus merenung saat Jaro Saidi tampil di depan publik. Beliau sempat mengeluarkan pantun yang isinya cukup menohok buat para pemimpin kita: "Ke Malingping lewat Cikeper, ke Rangkas beli roti. Jadi pemimpin harus pintar, harus bisa berantas korupsi."
Wah, mic drop banget, kan? Bayangin, seorang tokoh adat yang hidupnya jauh dari hingar-bingar politik, justru bisa ngasih insight yang tajam banget soal kondisi bangsa. Ini membuktikan kalau kearifan lokal itu nggak pernah ketinggalan zaman. Justru, seringkali mereka lebih "melek" soal moralitas dibanding orang-orang yang duduk di kursi empuk dengan setelan jas rapi.
Korupsi itu ibarat virus yang menyerang hardware sebuah negara. Dia nggak cuma bikin sistem jadi lambat, tapi bisa bikin seluruh komponen rusak total. Jaro Saidi lewat pantunnya ngingetin kita kalau kepintaran seorang pemimpin itu nggak ada gunanya kalau nggak dibarengi dengan integritas. Tanpa kejujuran, sepintar apa pun pemimpin, dia cuma bakal jadi hacker yang ngerusak sistem negara dari dalam.
Mengapa Kita Harus Belajar dari Sosok Seperti Jaro Saidi?
Mungkin banyak di antara kita yang merasa, "Ah, kan itu urusan orang Baduy, apa hubungannya sama hidup gue yang tinggal di apartemen atau kos-kosan?" Well, di sinilah letak pentingnya belajar dari tokoh adat. Kita hidup dalam ekosistem global. Apa yang terjadi di hutan Gunung Kendeng punya dampak ke siklus air di wilayah sekitarnya. Apa yang dilakukan masyarakat Baduy dalam menjaga kelestarian alam adalah investasi jangka panjang buat kita semua.
Mereka adalah "penjaga gawang" terakhir dari keasrian alam yang tersisa. Kalau kita kehilangan tokoh-tokoh seperti Jaro Saidi, kita kehilangan kompas moral yang ngingetin kita tentang nilai-nilai kemanusiaan yang mendasar. Kita jadi kehilangan sentuhan dengan akar kita sendiri.
Kepergian Jaro Saidi bukan cuma soal berduka, tapi soal melanjutkan estafet perjuangan. Beliau sudah memberikan blueprint atau cetak biru tentang bagaimana hidup dengan cara yang benar: menjaga air, mencintai alam, dan berani bersuara melawan ketidakadilan. Tugas kita sekarang adalah menerjemahkan pesan-pesan tersebut ke dalam tindakan nyata. Mungkin kita nggak perlu pindah ke hutan, tapi kita bisa mulai dari hal kecil—nggak buang sampah sembarangan, mengurangi penggunaan plastik, dan lebih kritis terhadap kebijakan yang merusak lingkungan.
Menghargai Warisan dalam Era Digital
Di era yang serba cepat dan short-lived ini, di mana berita hari ini bakal tenggelam oleh berita besok, sangat penting bagi kita untuk berhenti sejenak dan memberi penghormatan pada sosok-sosok yang berjasa. Jaro Saidi adalah pengingat bahwa di balik layar smartphone yang kita pegang, ada dunia nyata yang sedang berjuang untuk tetap bertahan.
Kepergian beliau meninggalkan lubang besar dalam struktur adat Baduy, tapi pesan-pesan beliau tentang keberlanjutan dan integritas akan tetap hidup selama kita terus membicarakannya. Seperti sebuah file yang di-backup ke banyak cloud, selama kita ingat dan menjalankan nilai-nilai yang beliau ajarkan, maka "karya" dan perjuangan Jaro Saidi nggak akan pernah benar-benar hilang.
Mari kita jadikan momen ini sebagai refleksi. Apakah kita sudah cukup peduli dengan lingkungan? Apakah kita sudah cukup berani untuk bersuara jujur? Apakah kita sudah menjadi manusia yang memberi manfaat bagi orang lain, seperti yang dilakukan Jaro Saidi sepanjang hidupnya?
Dunia memang sedang bising, tapi di balik kebisingan itu, suara alam dan suara para penjaga bumi seperti Jaro Saidi akan selalu menemukan jalannya untuk sampai ke hati kita. Selamat jalan, Jaro Saidi Putra. Terima kasih sudah menjadi pengingat bagi kami yang sering lupa arah. Warisanmu, terutama soal menjaga air sebagai sumber kehidupan, akan terus mengalir layaknya sungai yang kamu jaga dengan sepenuh hati.
Bagi kamu yang ingin terus mengikuti perkembangan cerita inspiratif lainnya atau sekadar ingin belajar bagaimana mengelola hidup agar lebih bermakna di tengah arus informasi yang deras, jangan ragu untuk terus mengeksplorasi kumpulan artikel pengembangan diri yang sudah kami siapkan khusus untuk kamu. Tetaplah menjadi bagian dari perubahan, karena perubahan besar selalu dimulai dari kesadaran individu, persis seperti bagaimana satu sosok Jaro Tanggungan 12 bisa memberi dampak begitu besar bagi ribuan orang.
Sampai jumpa di narasi-narasi bermakna lainnya, dan mari kita pastikan pesan tentang menjaga alam dan kejujuran tidak berhenti di layar ini saja, melainkan berlanjut di langkah kaki kita sehari-hari. Karena pada akhirnya, kita semua adalah penjaga bumi dengan cara kita masing-masing.
